Pendidikan bagi perempuan masih menjadi polemik di masyarakat khususnya pedesaan. masih banyak masyarakat beranggapan bahwa wanita tidak harus berpendidikan tinggi. Pandangan ini bisa dimaklumi mengingat masih ada yang menempatkan perempuan sebagai sosok yang hanya mengurusi rumah tangga.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tercatat bahwa angka persentase penduduk umur 15 tahun di pedesaan sebesar 19.55% pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Kita geser pada persentase tingkat perguruan tinggi angkanya lebih menyusut, bukan hanya soal biaya atau fasilitas.
Tantangan pendidikan perempuan sering datang dari lingkungan, maupun dari keluarga. Mereka terkadang mengucapkan seperti, “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga mengurus rumah.” Dari ucapan tersebut mematahkan harapan perempuan untuk kembali menuntut ilmu, dan hidupnya hanya untuk menikah muda.
Pendidikan perempuan bukan hanya sekadar hak mereka, tetapi juga strategi pembangunan. Pendidikan perempuan bukan hanya isu perempuan, ia juga sudah menjadi isu nasional. Perempuan yang berpendidikan akan lebih peduli terhadap anaknya, seperti tentang pendidikan, kesehatan, gizi dan juga menjadi ruang lingkup yang positif.
“Dalam proses perjuangannya, RA Kartini meyakini bahwa melalui pendidikan, perempuan dapat membebaskan diri dari belenggu tradisi dan mampu memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Pemikiran itu masih relevan hingga saat ini,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari pemberitaan online Metrotv. Ditambahkan oleh Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perempuan mengenyam pendidikan merupakan langkah penting yang harus dilakukan.
Perempuan bukan hanya alat, tetapi perempuan juga berhak menggapai segala cita-citanya. Pendidikan pada perempuan penting untuk kemajuan Indonesia, pendidikan perempuan bukan hanya soal akademik. Ia adalah soal karakter: nilai hidup, empati, keberanian, dan ketahanan mental. Kita tidak bisa mendidik bangsa dengan kuat, jika tidak melibatkan kekuatan perempuan dalam prosesnya. (17/09/2025)