Peringati Identitas Bangsa Dengan Bercermin

Laut bagi Indonesia bukan sekadar bentang air yang mengelilingi ribuan pulau, melainkan fondasi jati diri bangsa. Namun, seiring waktu, kesadaran kolektif untuk menjaganya kian pudar, sementara kerusakan ekosistem terus meningkat dan memicu berbagai bencana yang mengancam kehidupan masyarakat pesisir.

Memudarnya jati diri sebagai negara maritim terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang tidak lagi menempatkan laut sebagai bagian penting dari identitas bangsa. Peringatan setiap 13 Desember sejatinya bukan hanya seremoni tahunan, tetapi pengingat untuk memahami kembali potensi besar, berbagai tantangan, sekaligus tanggung jawab dalam mengelola wilayah perairan dan menjaga kedaulatan maritim Indonesia.

Temuan yang dipublikasikan oleh RRI.co.id menunjukkan kondisi yang memprihatinkan: praktik menangkap ikan secara destruktif masih terjadi, bahkan kapal wisata kerap menurunkan jangkar langsung di area terumbu karang. Kerusakan terumbu karang membawa dampak luas pada kehidupan manusia. Nurwarta menegaskan bahwa laut merupakan penyumbang utama oksigen sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir. Jika kerusakan ini tidak segera ditangani, ancaman yang muncul bukan hanya pada pariwisata, tetapi juga keberlanjutan generasi di masa depan.

Situasi tersebut menandakan bahwa kesadaran sebagai bangsa laut belum benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari, dan sering kali hanya muncul saat momentum peringatan tertentu. Fajar Kurniawan, Direktur Pengendalian Penataan Ruang Laut di Ditjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut KKP, dikutip dari jamberita.com, menekankan pentingnya menjaga seluruh ekosistem laut, termasuk terlibat langsung dalam pemulihan apabila terjadi kerusakan. Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan ruang laut harus memperhatikan aspek sosial agar tidak menimbulkan konflik serta tetap menghormati masyarakat pesisir. Padahal, lautan terus memberikan manfaat ekonomi, ekologis, dan budaya. Ketika ekosistem di dalamnya rusak, dampaknya merambat pada seluruh sistem kehidupan. Karena itu, menjaga laut sejatinya adalah upaya melindungi masa depan bangsa.

Kerusakan lingkungan juga terlihat dari meningkatnya bencana ekologis di berbagai daerah, termasuk di Sumatera. Banjir, abrasi, dan pencemaran perairan menjadi bukti nyata bahwa kondisi alam semakin memburuk. Di sejumlah kawasan pesisir Sumatera, hilangnya hutan mangrove dan degradasi ekosistem pantai membuat wilayah tersebut lebih rentan terhadap gelombang pasang. Mangrove yang mestinya berfungsi sebagai benteng alami justru hilang akibat berbagai aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan, penebangan, hingga pengelolaan wilayah yang tidak berkelanjutan.

Hubungan antara kerusakan laut dan meningkatnya bencana ini tidak bisa dipisahkan. Ekosistem laut, pesisir, dan daratan saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Terumbu karang yang rusak menyebabkan populasi ikan menurun; mangrove yang hilang membuka jalan bagi gelombang besar; sementara sampah dan limbah dari daratan yang bermuara ke laut mempercepat kerusakan ekosistem. Masyarakat pesisir, yang hidupnya bergantung pada laut, menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari perubahan tersebut.

Peringatan 13 Desember seharusnya menjadi momentum untuk menguatkan kembali tekad kolektif dalam melindungi laut Indonesia. Laut mesti dipandang bukan sebagai sumber eksploitasi tak terbatas, melainkan sebagai aset bangsa yang harus dijaga. Meski pemerintah memiliki kewenangan penting, peran masyarakat tetap krusial. Mulai dari menjaga kebersihan sungai, mendukung kegiatan wisata yang ramah lingkungan, hingga memastikan praktek penangkapan ikan tidak merusak ekosistem semua langkah kecil ini berkontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan laut bagi generasi mendatang. (Fadilah,12/12/2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *