Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Al) optimalisasi pemanfaatannya bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan untuk menghadapi tantangan era digital.
Kemajuan teknologi berkembang pesat di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Kini kecerdasan buatan atau biasa disebut dengan AI, saat ini menjadi penopang cara belajar mengajar. Dikutip dari media online kementrian Sekolah Dasar dan Menengah Tahun 2024 pada acara UNESCO Digital Learning Week 2024, ada beberapa poin yang disampaikan mengenai aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam integrasi AI di bidang pendidikan. Contohnya seperti, Pendekatan yang Berpusat pada manusia dalam Penggunaan Teknologi AI, Pengembangan Kurikulum yang Responsif terhadap Perkembangan AI. Dalam satu dekade terakhir ini, sistem pembelajaran digital semakin menguat sehingga, tenaga kerja pendidikan mengubah cara mengajar, siswa diharuskan menggunakan platform sebagai pembelajaran, sehingga sistem penilaian otomatis mulai diterapkan.
Optimalisasi AI dalam bidang pendidikan belum sepenuhnya berjalan secara efektif. Menurut Wibowo Mukti tentang AI di bidang pendidikan memerlukan pendekatan yang berpusatkan pada manusia, dapat memastikan bahwa teknologi digunakan untuk mendukung dan memberdayakan peserta didik, guru, dan komunitas pendidikan secara keseluruhan. Dalam cara kerja AI yang berpusat pada manusia, sangat penting untuk memastikan bahwa tidak mengganggu hak asasi atau memperkuat ketidaksetaraan sosial. Misalnya contoh, algoritma yang tidak diawasi dengan baik dapat mengekspresikan bias (ketidak akuratan data), memperkuat stereotip, atau bahkan memperburuk diskriminasi. Mengoptimalisasikan AI dengan cara menyelaraskan dengan data yang dimiliki, sehingga tidak menimbulkan bias.
Kecerdasan buatan ini memiliki dampak positif jika digunakan dengan bijak, sementara akan jadi bumerang ketika disalah gunakan. Dilansir dari media online Ciputra ac.id bahwa Saat ini Al sudah mulai digunakan dalam dunia pendidikan dan memudahkan tugas para guru dan murid, Al dapat melakukan evaluasi ujian, tugas, dan kuis secara otomatis, Al dapat merekomendasikan materi pembelajaran yang relevan berdasarkan minat dan tingkat pemahaman siswa. Al memiliki dampak positif akan tetapi, memiliki dampak negatif dalam dunia pendidikan. Seperti, para siswa kesulitan untuk memecahkan masalah yang kompleks karena para siswa terlalu mengandalkan jawaban dari Al, sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir kreatif dan kritis.
Mengoptimalisasikan AI dalam bidang pendidikan sesuai dengan konsep Seyogyanya, sekolah di era sekarang harus memanfaatkan lahirnya teknologi-teknologi yang memudahkan pekerjaan guru maupun siswa (Tjahyanti, dkk. 2022). Pada konsep tersebut dijelaskan bahwa menggunakan AI sama saja dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang memudahkan tugas, hanya saja tidak menggunakan nya sebagai hal yang berdampak buruk.
Optimalisasi Al harus dilakukan secara terstruktur dan tertata. Peningkatan kompetensi digital bagi pendidik menjadi prioritas agar Al digunakan secara efektif. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menyediakan infrastruktur yang merata di seluruh wilayah. Penerapan etika digital dan keamanan data harus menjadi bagian dari kurikulum teknologi. Optimalisasi Al dalam pendidikan bukan sekadar perkembangan teknologi dalam sistem belajar, tetapi menjadi langkah strategis menuju masa depan pendidikan yang cerah. Kecerdasan buatan ini menjadi sebuah alat bantu yang memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya. Dengan cara mengimplementasikan dengan tepat, pendidikan Indonesia dapat menjadi pionir transformasi digital di kawasan Asia Tenggara. (Fadilah 07/10/25)