Menyulam Ketenangan Jiwa Pasca Bencana 

Ketika bencana datang tanpa aba-aba, tapi meninggalkan luka serta batin yang cukup dalam. Upaya kembali membangun kehidupan, psikososial hadir sebagai jembatan untuk menyulam kembali ketenangan jiwa dikarenakan trauma bencana.

Bencana alam bukan sekedar menghancurkan infrastruktur yang ada, tetapi juga memberikan dampak pada setiap orang yang mengalami hal tersebut. Dilansir dari pemberitaan rri.co.id, Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi para korban. Kejadian yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar kendali ini sering kali memicu perasaan takut, cemas, dan ketidakberdayaan. Terlebih lagi, kehilangan orang tercinta, tempat tinggal, atau sumber mata pencaharian dapat memperburuk kondisi mental para penyintas, membuat mereka rentan terhadap gangguan stres pasca trauma (PTSD). Pemulihan psikososial menjadi kebutuhan untuk menyembuhkan mental dan sosial masyarakat yang terdampak.

Dari pemberitaan tersebut juga dituliskan, bahwa pengalaman traumatis selama bencana, seperti menyaksikan kehancuran, cedera, atau bahkan kematian, dapat meninggalkan luka emosional yang sulit pulih dalam waktu singkat. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan mengalami trauma karena keterbatasan mereka dalam memahami serta mengatasi situasi yang menakutkan. Program bantuan seringkali berfokus pada kebutuhan fisik seperti pangan, papan, dan logistik, sementara kebutuhan psikologis belum mendapatkan porsi penanganan yang memadai.

Merujuk pada media online NIH National Library Of Medicine, menjelaskan bahwa dari Setiap tahun, jutaan orang terdampak keadaan darurat seperti konflik bersenjata dan bencana alam. Krisis ini mengganggu keluarga, mata pencaharian, dan layanan penting, serta berdampak signifikan pada kesehatan mental. Hampir semua yang terdampak mengalami tekanan psikologis. Sebagian kecil mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi atau gangguan stres pascatrauma. Secara sosial, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas masyarakat, memperlambat proses pemulihan komunitas, serta menimbulkan kesenjangan psikologis antarwarga.

Merujuk pada teori McFarlane dan Norris, mengenai bencana alam juga merupakan peristiwa yang menimbulkan stres yang memiliki onset akut, dialami secara kolektif, dan dibatasi waktu. Hampir sepertiga orang yang terkena dampak bencana mungkin mengalami konsekuensi kesehatan mental yang negatif seperti gangguan stres pasca trauma (PTSD), kecemasan, depresi, dan lainnya. Dalam kondisi seperti ini sudah saat nya kembali menjaga bumi, dikarenakan sebagian besar bencana itu terjadi bukan hanya kehendak alam, melainkan akibat dari manusia itu sendiri. Contohnya, penebangan pohon, membuang sampah sembarangan, sampai pada perubahan iklim. Pada akhirnya kerusakan mulai terjadi dan mengakibatkan manusia itu sendiri, dalam bentuk banjir, longsor, kekeringan hingga cuaca ekstrem. Maka daripada itu, jaga bumi bukan hanya tugas perorangan melainkan kewajiban sesama, lebih baik kita mencegah dengan menjaga lingkungan daripada kita terkena dampak yang bukan hanya mengakibatkan fisik melainkan juga mental. 

Pedoman internasional merekomendasikan berbagai kegiatan untuk menyediakan dukungan kesehatan mental dan psikososial (MHPSS) selama keadaan darurat, mulai dari swadaya masyarakat dan komunikasi hingga pertolongan pertama psikologis dan perawatan kesehatan mental klinis. Kesiapsiagaan dan integrasi dengan pengurangan risiko bencana sangat penting untuk memitigasi dampak. Negara-negara juga dapat memanfaatkan keadaan darurat sebagai peluang untuk berinvestasi dalam kesehatan mental, memanfaatkan peningkatan bantuan dan perhatian yang mereka terima untuk mengembangkan sistem perawatan yang lebih baik dalam jangka panjang.

Pemulihan pasca bencana bukan hanya tentang membangun kembali fisik yang hancur, tetapi juga memperbaiki dampak psikologis dan sosial yang ditinggalkan oleh bencana. Dukungan psikososial berperan penting dalam membantu korban bencana pulih dari trauma, memperkuat hubungan sosial, dan memberikan mereka keberdayaan untuk kembali melanjutkan kehidupan. Dengan memberikan perhatian lebih pada aspek psikososial, proses pemulihan dapat berlangsung lebih komprehensif dan berkelanjutan. (Fadilah 09/10/25)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *