Kekerasan perempuan tak hanya fisik melainkan ekologis

Kekerasan perempuan saat ini tidak hanya yang harus selalu dilihat, melainkan kekerasan perempuan yang diambil alih oleh perusahaan ekstraktif yang menjadi kekerasan perempuan secara ekologis. 

Saat ini kekerasan perempuan tidak selalu terlihat, ketika lingkungan rusak dan ruang hidup dirampas perempuanlah menjadi penanggung beban tersebut yang disebut kekerasan ekologis. Dalam portal online rri.co.id daratan Riau telah dikuasai oleh industri ekstraktif dimana hal tersebut perkebunan sawit, akasia, dan tambang yang menjadikan perempuan terpinggirkan dalam mengakses tanah sebagai sumber kehidupan. Beban yang dipikul perempuan menjadi berlapis: kekerasan ekologis, ekonomi, psikis, hingga kriminalisasi ketika bersuara.

Salah satu korban Desa Batu Ampar Henriyanti, ia berbicara pendirian awal perusahaan tersebut tidak ada menyampaikan apapun kepada masyarakat setempat, akibat dari perusahaan tersebut hilangnya sumber air bersih. Dampak yang paling dirasakan oleh perempuan ialah yang menanggung beban untuk menyediakan air untuk keluarganya, menjaga kesehatan anak, dan memastikan kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Tak hanya kerusakan lingkungan ini, melainkan  berbentuk menjadi kekerasan langsung terhadap tubuh perempuan dan kehidupan perempuan.

Sedihnya perampasan ini dialami perempuan dan dipengaruhi oleh sebuah praktek kapitalisme, dan patriarki. Dalam praktik kapitalisme selalu menempatkan alam menjadi komoditas yang dapat dieksploitasi sehingga mengabaikan kerentanan ekologis serta keberlangsungan ruang hidup masyarakat. Patriarki memikirkan peran, pengetahuan, dan suara perempuan dalam mengelola lingkungan sekaligus menempatkan perempuan pada posisi yang rentan dalam relasi kuasa dalam mengakses terhadap tanah air dan sumber penghidupan lainnya. Dua sistem ini sama-sama saling menguatkan, dan menjadi kerusakan lingkungan dan kerusakan terhadap perempuan perempuan dan lingkungan tidak bisa dipisahkan, dikarenakan mereka adalah satu sistem yang saling hidup, ketika lingkungan rusak maka tubuh Perempuan ikut dirusak ketika ruang penghidupan mereka dirampas atau dipersempit maka perempuan akan kehilangan rumah amannya. 

Tak hanya fisik melainkan konflik lahan yang diambil alih oleh perusahaan ekstraktif perempuan lah yang sering kali menjadi target utama intimidasi dan kekerasan fisik, Dilansir dari media online Rumahkitab.com, perempuan termasuk kedalam kekerasan seksual upaya membungkam perlawanan dan mematahkan semangat perempuan, melainkan perempuan menjadi gerbang terdepan dalam mempertahankan tanah adat yang mereka pijak dan lingkungan hidup mereka. 

Membongkar kekerasan terhadap Perempuan di balik industri ekstraktif harus lebih dulu membongkar sistem nilai yang mendasarinya titik kekerasan terhadap tubuh perempuan dan eksploitasi terhadap tubuh alam adalah dua manifestasi dari ideologi yang sama, di mana ideologi yang gagal menghargai nilai kehidupan di atas nilai tukar. Maka daripada itu pemulihan agency perempuan merupakan langkah awal dan paling krusial dalam keadilan ekologi yang sejati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *