Hari Kereta Api Nasional Jadi Cermin Bangsa Indonesia

Foto : Detik.com

“Peringatan Hari Kereta Api Nasional (KAI) pada 28 September bukan hanya menjadi renungan atas sejarah panjang transportasi Indonesia, tetapi juga menjadi tolak ukur bagi bangsa dalam meningkatkan pola pikir di tengah perubahan zaman.”

Tangerang Selatan, Minggu (28/11) Suara peluit panjang dan deru roda besi di atas rel sudah menjadi bagian dari jantung transportasi Indonesia sejak lebih dari satu abad lalu. Hari ulang tahunnya kini dirayakan dengan mengusung tema “Semakin Melayani”, dari Perkembangan Kereta Api Indonesia (KAI) dari masa ke masa menunjukkan bahwa kemajuan tidak mungkin dicapai tanpa kemampuan beradaptasi dengan tantangan.

Setiap tanggal 28 September, diperingati hari Kereta Api Nasional, berbagai rintangan telah dihadapi dengan berbagai solusi untuk tetap maju dan berkembang. Begitupun dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, mulai dari perubahan iklim, digitalisasi global, hingga persaingan ekonomi dunia yang menuntut masyarakat untuk mengembangkan pola pikir adaptif. Individu perlu pikiran terbuka terhadap pembelajaran baru, berani berinovasi, serta mampu bekerja sama dengan tim. Transformasi transportasi publik yang lebih modern hanya dapat berjalan baik jika masyarakat turut berperan aktif menjaga keselamatan, tertib, dan ikut menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku. Adaptasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal perilaku dan cara pandang terhadap perubahan

Mengutip dari situs resmi KAI, sejarah penetapan awal jalur kereta api berada di Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen  oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm. Seiring perjalanan waktu, pengelolaan perkeretaapian mengalami beberapa perubahan, hingga akhirnya pada 28 September 1945, para pekerja kereta api secara resmi mengambil alih perusahaan kereta dari tangan Jepang. 

Kini, setelah 80 tahun lebih, wajah perkeretaapian Indonesia berubah dari lokomotif uap yang gagah namun lamban, kita beralih ke kereta diesel, lalu menuju era elektrifikasi dan digitalisasi. Hadirnya kereta cepat Jakarta-Bandung, KRL Jabodetabek, hingga LRT di beberapa kota besar menjadi bukti bahwa kereta api terus bertransformasi mengikuti zaman. Begitu juga bangsa ini yang dituntut untuk selalu berkembang, dari awalnya anak sekolah hanya terbiasa belajar dari buku cetak dan catatan guru di kelas. Namun ketika pandemi datang, semua pembelajaran pindah ke daring. Anak sekolah harus beradaptasi dengan belajar secara online dan mencari materi yang akan dipelajari. Pada pola pikir adaptif, anak tersebut tidak tertinggal pelajaran, malah jadi lebih mandiri dan kreatif.

Hari Kereta Api Nasional bukan sekadar perayaan sejarah, tetapi juga inspirasi. Jika kereta api mampu bertransformasi melalui pola pikir adaptif, maka bangsa Indonesia pun dapat terus melaju menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing. (Fad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *