Fenomena Fatherless Menjadi Ancaman Terhadap Tumbuh Kembang Anak 

Fenomena anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, yang disebut fatherless, semakin meningkat dan menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan psikologis yang perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah.

Fenomena fatherless dimana kondisi tersebut merupakan tumbuh kembang anak tanpa adanya sosok ayah secara emosional maupun fisik.  Menurut psikolog anak dan remaja, Monica Sulistiawati, kondisi fatherless tidak hanya dialami oleh anak yatim, yaitu anak yang kehilangan ayah karena kematian. Anak-anak yang ayahnya masih hidup pun bisa mengalami kondisi ini jika ayah tersebut tidak terlibat secara emosional atau fisik dalam kehidupan mereka. 

Ketiadaan ayah biasanya menyebabkan masalah dalam aspek psikologis, sosial, dan ekonomi anak. Berdasarkan media online Universitas Airlangga  dijelaskan bahwa Pertumbuhan fisik maupun psikologis anak tetap memerlukan perhatian serta bimbingan dari kedua orang tuanya. Hal ini sama seperti 30,83 juta anak usia dini di Indonesia, sekitar 2.999.577 anak kehilangan sosok ayah. Kurangnya dukungan serta bimbingan dalam perkembangan mental, ketidakhadiran sosok ayah membuat beban ibu dalam segi ekonomi maupun psikologis. 

Dampak yang paling nyata dalam Studi Blankenhorn (1995) dan Amato & Gilbreth (1999) menunjukkan bahwa anak-anak tanpa kehadiran ayah yang terlibat berisiko mengalami harga diri rendah, gangguan kecemasan dan depresi, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Mereka juga cenderung memiliki prestasi akademik yang buruk, lebih sering absen dari sekolah, dan memiliki risiko lebih tinggi untuk putus sekolah (UNICEF, 2007). Tidak hanya itu, anak fatherless juga rentan terhadap keterlibatan dalam kenakalan remaja, perilaku seksual berisiko, hingga tindakan kriminal (Psychology Today, 2021) 

Menurut laporan UNICEF mencatat sekitar 20,9% anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi ketiga di dunia (UNS, 2021). Ketidakhadiran ini tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara psikologis dan emosional teori perkembangan keluarga dan psikologi anak, kehadiran ayah berperan penting dalam pembentukan identitas, disiplin, dan keamanan emosional anak.

Solusi dalam menghadapi fenomena fatherless berlandaskan portal online dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memerlukan pendekatan multidimensional. Pemerintah dan lembaga sosial harus meningkatkan program dukungan bagi keluarga single parent, menyediakan konseling psikologis, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya peran ayah. Program mentoring dan komunitas pendukung anak juga bisa membantu anak mendapatkan figur pengganti atau dukungan emosional. Selain itu, penting untuk memperkuat nilai-nilai keluarga harmonis melalui pendidikan dan kebijakan yang mendorong keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan anak.

Fenomena fatherless diharapkan dapat tercipta generasi yang tumbuh dengan optimal dalam lingkungan keluarga bukan hanya masalah individu atau keluarga, tetapi persoalan sosial yang perlu perhatian bersama. setiap anak yang tumbuh dengan cinta dan kehadiran seorang ayah, tersimpan pondasi kokoh untuk masa depan yang lebih baik.(Fadilah 10/10/25)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *