Orang Tua Memahami, Bukan menghakimi 

Berbagai macam karakter dan sifat anak membuat orang tua seharusnya lebih dekat dengan sang anak, bukan hanya memarahi tanpa dasar melainkan menasehati dengan mengetahui hal yang dilakukan anak. Portal online UNESA, dijelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi pola asuh orang tuanya. Maka daripada itu, orang tua harus memahami betul setiap tindakan bahkan ucapan yang diarahkan kepada anak. Menurut Prof. Dr. Rachma Hasibuan, M.Kes., pakar pendidikan anak usia dini UNESA bahwa setiap ucapan orang tua bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak. 

Naasnya banyak anak yang dekat dengan orang tuanya, tetapi yang ia rasakan ialah tak adanya peran orang tua di sampingnya.  Indonesia, fenomena ini bisa ditemukan pada banyak kasus anak yang terlibat kriminalitas seperti tawuran, pencurian, hingga penyalahgunaan narkoba. Banyak dari mereka berasal dari keluarga yang hubungan emosionalnya renggang, jarang diajak berdiskusi, atau tidak mendapatkan perhatian cukup di rumah. Ketika orang tua tak bisa memahami anaknya, maka anak akan merasa tak ada yang memperhatikan sehingga ia merasa tindakan yang ia lakukan sudah lah sesuai.

Para pakar menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam keseharian anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan waktu untuk berbincang secara tulus, menemani ketika anak menghadapi kesulitan, serta membangun lingkungan keluarga yang hangat dan aman secara emosional. Ketika relasi orang tua dan anak terjalin dengan penuh dukungan, anak cenderung tumbuh lebih percaya diri, mampu menjauh dari pengaruh yang tidak baik, dan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan sosial di luar rumah.

Memulihkan kedekatan dengan anak bukan soal mencari siapa yang salah, melainkan tentang kesiapan orang tua untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang melalui sikap yang lebih memahami. Ketegangan sering muncul ketika kualitas relasi orang tua dan anak tidak terbangun dengan baik. Karena itu, orang tua perlu belajar hadir secara emosional, bukan sekadar secara fisik mulai dari komunikasi yang lembut, waktu bersama yang bermakna, hingga pola asuh yang penuh empati. Dengan mengganti kebiasaan menghakimi menjadi usaha memahami, serta membangun rutinitas positif yang konsisten, ikatan emosional pun dapat tumbuh kembali dan hubungan orang tua anak menjadi lebih kuat. (Fadilah 10/12/2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *