Antisipasi Bencana Tanpa Tahu Kapan Terjadi

Bencana yang terjadi di Indonesia ada banyak ragamnya diantaranya ialah gempa bumi, tsunami, banjir dan masih banyak lainnya. Sehingga masyarakat harus mengantisipasi hal yang tidak kita ketahui kapan terjadi. 

Cuaca yang tidak bisa ditebak, dan bencana yang tidak bisa kita prediksi membuat masyarakat harus lebih hati-hati. Dilansir dari portal media online Badan penanggulangan bencana Indonesia berada di iklim tropis, di mana iklim tersebut memiliki dua musim diantaranya musim hujan dan musim kemarau Memiliki ciri-ciri adanya perubahan cuaca suhu, dan arah angin yang cukup ekstrim. Sehingga membuat masyarakat harus lebih waspada, karena bencana tidak tahu kapan terjadi. 

Banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia, diantaranya tsunami banjir gempa bumi dan masih banyak lainnya. Bencana dapat disebabkan dari kejadian alam maupun ulah manusia itu sendiri. Menurut website online united nations in Indonesia, yang mengartikan tsunami sebagai serangkaian gelombang yang bergerak dengan panjang dan periode yang sangat panjang. Biasanya disebabkan oleh gangguan yang yang berkaitan dengan gempa bumi yang terjadi di bawah atau di dekat dasar laut.

Belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara tepat, dan akurat waktu kapan dimana serta kekuatan gempa bumi yang akan terjadi. Namun hadirnya BMKG atau badan meteorologi klimatologi dan geofisika, sebagai sebuah lembaga yang bertugas memonitoring kejadian bencana terutama berusaha dalam memaksimalkan dalam mencegah dampak dan akibat dari bencana tersebut. Adanya lembaga tersebut memberikan peringatan dan kewaspadaan terhadap suatu bencana, sehingga masyarakat dapat mengetahui bencana apa yang akan terjadi dan sebesar apa dampak dari bencana tersebut.

Menurut BMKG gempa bumi tidak mematikan tapi memberikan dampak dan akibat yang di bisa ditimbulkan dengan kerusakan dan korban jiwa. Sehingga gempa bumi terbesar yaitu magnitudo lebih besar dari 7 terjadi di laut akan menimbulkan tsunami, dan jika gempa bumi besar lebih besar dari 5 terjadi di darat akan ditimbulkan kerusakan yang parah pada bangunan sehingga dampak inilah yang dapat menimbulkan korban jiwa. Kewaspadaan yang terjadi di Indonesia, saat ini menjadi kebiasaan masyarakat untuk terus berhati-hati dan mengantisipasi terjadinya bencana tersebut. 

Berdasarkan portal online BPDB Jogja, ada beberapa jenis-jenis tsunami. Diantaranya ada tsunami jarak dekat yang terjadi 0 sampai 30 menit, setelah gempa maka jarak pusat gempa ke lokasi sejauh 200 km besar kemungkinan bahwa daerah tersebut merasakan atau bahkan merusak bangunan. Tsunami jarak menengah, terjadi antara 30 menit sampai 2 jam setelah gempa maka jarak pusat gempa ke lokasi ini sejauh 200 km sampai 1000 km. Kemungkinan bahwa daerah di sekitar jarak ini merasakan gempa dengan intensitas II sampai ke V MMI atau Modified Mercalli Intensity. Dan yang terakhir ada tsunami jarak jauh yang terjadi lebih dari dua jam setelah gempa bumi, lokasi daerah ini dari pusat gempa lebih dari 1000 km karena itu kecil kemungkinan daerah itu merasakan gempa namun masih memungkinkan terjadinya pasang surut sebelum gelombang tsunami datang. Sistem peralatan daerah ini tidak perlu dilengkapi dengan accelerograph kecuali daerah ini juga termasuk daerah yang rawan tsunami jarak dekat.

Ada beberapa hal yang dilakukan sebelum terjadinya salah satu bencana yaitu tsunami menyalakan radio untuk mengetahui apakah tsunami terjadi setelah gempa bumi di sekitar wilayah pantai, bergerak ke arah daratan yang lebih tinggi dan tinggal di sana sementara waktu. Jauhi pantai jangan pernah menuju ke arah Pantai untuk melihat datangnya tsunami, apabila melihat adanya gelombang maka jangan terlalu dekat atau segera menjauh. Yang terakhir adalah waspada apabila terjadi air surut, maka jauhi pinggiran pantai ini merupakan salah satu peringatan tsunami yang harus diperhatikan. 

Dan ada beberapa hal yang harus kita lakukan setelah terjadinya tsunami, diantaranya ialah jauhi area tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari pihak yang berwenang Jauhin runtutan di dalam air hal ini sangat berpengaruh terhadap keamanan perahu penyelamat dan orang-orang di sekitar dan yang terakhir adalah mengutamakan keselamatan diri, bukan barang-barang yang kita miliki. (Fadilah, 07/11/2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *