Santri saat ini bukan sekedar memfokuskan pada ilmu agama, melainkan mengikuti perkembangan zaman yang begitu pesat. Santri didorong untuk bisa segala hal untuk membangun Indonesia yang lebih maju.
Santri bukan hanya seorang siswa yang jauh dari perkembangan teknologi, banyak pejuang Indonesia yang latar belakangnya adalah santri. Di era modern, peran santri tidak hanya terbatas pada pendalaman ilmu agama. Banyak santri yang juga unggul dalam bidang sains, teknologi, sosial, dan budaya. Pendidikan di pesantren modern seringkali mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan keagamaan, menghasilkan lulusan yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus keluasan intelektual. Para santri masa kini aktif berkontribusi di berbagai sektor pembangunan bangsa, dilansir dari media online UNESA .
Saat ini santri bukan hanya memperdalam ilmu agama, akan tetapi mereka mengikuti perkembangan zaman. Menurut Ismail Cawidu, saat konferensi pers mengucapkan bahwa tugas santri tidak hanya mengaji, tetapi membawa cahaya peradaban. Kini saatnya santri Indonesia memberikan kontribusi nyata bagi dunia. Dari sana dapat kita lihat bahwa, saat ini santri sudah mengikuti perkembangan zaman.
Santri saat ini didorong untuk menguasai berbagai macam ilmu, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. Masa depan adalah milik seseorang yang berpikiran maju, serta berani berinovasi. Membangun Indonesia sampai pada peradaban dunia, diharuskan untuk menyiapkan generasi santri yang berilmu, berakhlak mulia serta memiliki daya saing. Pesantren bukan hanya tempat tinggal melainkan tempat dituntut untuk menemukan jati diri, memperkuat ilmu agama, dan membuka diri terhadap berbagai macam isu-isu lingkungan.
Moderasi beragama bukan hanya slogan yang sering digunakan, melainkan sebuah praktik keberagamaan yang inklusif, adil dan berkembang. Santri dengan kehidupan beragama, baik Mazhab, dan suku. Dalam Buku Moderasi Beragama (Kementerian Agama, 2019), dijelaskan bahwa moderasi beragama adalah sikap beragama yang seimbang antara pengamalan ajaran agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan terhadap praktik beragama orang lain (inklusif).
Sebelum kebijakan tentang moderasi beragama, pesantren telah mempraktekkannya dalam kehidupan sosial dan spiritual. Dalam kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren, seperti Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan Ta’lim al-Muta’allim karya Al-Zarnuji mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan akhlak, antara teks dan konteks, antara iman dan kemanusiaan.
Santri dengan berbagai macam tradisi keilmuannya, memiliki fondasi kuat untuk menjaga keseimbangan ini, dilansir dari media online Kementerian Agama dijelaskan tentang santri berpikir bukan hanya dalam kerangka syariat, namun tetap terbuka terhadap realitas sosial. Dalam khazanah pesantren dikenal empat nilai pokok yakni, tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil), (Syam, 2009). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Indonesia dengan nilai-nilai tersebut sudah menjadi fondasi untuk melawan ekstremisme, baik yang berwujud radikalisme agama dan liberalisme. Santri memiliki kemampuan menafsirkan teks agama dengan kearifan lokal, sehingga ajaran Islam dapat hidup berdampingan dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya Nusantara. Maka santri telah menjadi aktor untuk membangun Indonesia yang memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat, yakni harmoni antarumat beragama yang selama ini dijaga oleh pesantren dan para santri. (Fadilah 22/10/25)